Ever since I was a young girl, I dreamed of one day finding my biological family. That wish never faded.
In January 2019, my search officially began. I contacted Roots Indonesia, completed my first interview, and submitted all of my adoption records so an investigation could begin in Indonesia. My case was also shared with local search networks in the hope that someone would recognize the names Narwen or Akeos, or remember what happened in 1977.
At that time, I had only a handful of clues: the names of my biological parents, my adoption documents, and the hope that they would one day lead me back to my family.





Sejak saya masih kecil, saya selalu bermimpi suatu hari dapat menemukan keluarga kandung saya. Keinginan itu tidak pernah hilang.
Pada Januari 2019, pencarian saya secara resmi dimulai. Saya menghubungi Roots Indonesia, menjalani wawancara pertama, dan menyerahkan seluruh dokumen adopsi saya agar penyelidikan dapat dimulai di Indonesia. Kasus saya juga dibagikan kepada jaringan pencarian lokal dengan harapan ada seseorang yang mengenali nama Narwen atau Akeos, atau mengingat apa yang terjadi pada tahun 1977.
Saat itu, saya hanya memiliki sedikit petunjuk: nama orang tua kandung saya, dokumen adopsi saya, dan harapan bahwa semua itu suatu hari akan membawa saya kembali kepada keluarga saya.
In April 2019, my adoption file was forwarded to the Indonesian search network through Roots Indonesia, and my story was prepared for publication on the Facebook page Mencari Orang Tua Kandung in the hope that someone would recognize my story.
At that time, only a few facts were known: my birth mother’s name was Narwen, my possible birth father was Akeos, I was born on 15 February 1977 at Koja Hospital in Tanjung Priok, Jakarta, and was left there four days later. I was later transferred to Yayasan Sayap Ibu Orphanage, where I was eventually adopted and given the name Farida.
Those few names, dates, and documents were all I had. It wasn’t much, but it was enough to take the first real step toward finding my family.

Pada April 2019, berkas adopsi saya diteruskan ke jaringan pencarian di Indonesia melalui Roots Indonesia, dan kisah saya dipersiapkan untuk dipublikasikan di halaman Facebook Mencari Orang Tua Kandung, dengan harapan seseorang akan mengenali cerita saya.
Saat itu, hanya sedikit informasi yang diketahui: nama ibu kandung saya adalah Narwen, nama ayah kandung yang diduga adalah Akeos, saya lahir pada 15 Februari 1977 di Rumah Sakit Koja, Tanjung Priok, Jakarta, dan ditinggalkan di sana empat hari kemudian. Saya kemudian dipindahkan ke Panti Asuhan Yayasan Sayap Ibu, tempat saya akhirnya diadopsi dan diberi nama Farida.
Hanya nama, tanggal, dan beberapa dokumen itulah yang saya miliki. Meskipun sangat sedikit, itu sudah cukup untuk memulai langkah pertama dalam menemukan keluarga kandung saya.
After years of searching behind the scenes without finding any answers, I decided to ask the world for help in April 2025.
I published my very first public appeal on TikTok, Facebook, and Instagram, sharing my story and asking anyone who might know my biological mother, Narwen, or my family to come forward.
It was the moment my private search became a public journey—one that would eventually reach hundreds of thousands of people across the world.
Setelah bertahun-tahun melakukan pencarian secara diam-diam tanpa menemukan jawaban, pada April 2025 saya memutuskan untuk meminta bantuan dunia.
Saya membagikan permohonan bantuan pertama saya melalui TikTok, Facebook, dan Instagram, menceritakan kisah saya dan meminta siapa pun yang mengenal ibu kandung saya, Narwen, atau keluarga kandung saya untuk menghubungi saya.
Saat itulah pencarian yang selama ini bersifat pribadi berubah menjadi sebuah perjalanan yang diketahui publik, sebuah kisah yang akhirnya menjangkau ratusan ribu orang di seluruh dunia.
On 26 June 2025, I set foot on Indonesian soil again for the first time in decades.
It has been a turbulent year since then, and only now have I found the time to look back on a journey that changed my life forever. But this is only the beginning, because in just two weeks, a new chapter of this story will unfold.
Together with my partner Mark and our son Ilias, I not only discovered the breathtaking beauty of Indonesia, but also uncovered pieces of my own past. Every place we visited, every conversation we had, and every person we met became another piece of a puzzle I have been trying to solve my entire life.
During this unforgettable journey, I met two men who quickly became my brothers from another mother: Jefri and Fahrizal. Together, we searched for the family I had spent a lifetime wondering about. Their kindness, dedication, and unwavering support gave me hope when I needed it most.
I’ll be sharing some of the most meaningful moments from that journey, moments of hope, heartbreak, laughter, discovery, and determination. Every photograph tells a piece of the story that brought me one step closer to my roots.
The search isn’t over yet. It’s only just beginning.



Pada 26 Juni 2025, saya kembali menginjakkan kaki di tanah Indonesia untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun.
Sejak saat itu, hidup saya dipenuhi berbagai peristiwa yang penuh emosi. Baru sekarang saya memiliki waktu untuk mengenang kembali perjalanan yang mengubah hidup saya untuk selamanya. Namun, ini hanyalah permulaan, karena dalam dua minggu lagi, babak baru dari perjalanan ini akan dimulai.
Bersama pasangan saya, Mark, dan putra kami, Ilias, saya tidak hanya menemukan keindahan Indonesia yang luar biasa, tetapi juga mulai menemukan kembali bagian-bagian dari masa lalu saya. Setiap tempat yang kami kunjungi, setiap percakapan yang kami lakukan, dan setiap orang yang kami temui menjadi kepingan puzzle yang selama ini saya cari sepanjang hidup.
Dalam perjalanan yang tak terlupakan ini, saya bertemu dengan dua pria yang dengan cepat menjadi saudara saya dari ibu yang berbeda: Jefri dan Fahrizal. Bersama mereka, saya mencari keluarga yang selama ini hanya bisa saya bayangkan. Kebaikan, dedikasi, dan dukungan mereka yang tak pernah pudar memberi saya harapan di saat saya sangat membutuhkannya.
Saya akan membagikan beberapa momen paling berkesan dari perjalanan ini—momen penuh harapan, kesedihan, tawa, penemuan, dan tekad. Setiap foto menceritakan bagian dari kisah yang membawa saya selangkah lebih dekat kepada akar dan asal-usul saya.
Pencarian ini belum berakhir. Ini baru saja dimulai.
On 1 July 2025, we found The Blue House …
Jalan Lorong 100 No. 15
Tanjung Priok, Koja
North Jakarta
For the first time in my life, I stood in front of the place my birth mother once called home. Never have I been closer to “home” than I was in that moment.
The emotions were impossible to describe. So many questions. So many imagined memories. This was where she belonged, where she lived, where our story began. The blue house where my birth mother once lived is now for sale.
Standing there, I couldn’t help but wonder how many times she had walked through that door, what her life had been like, and whether she had ever imagined that one day, nearly fifty years later, her daughter would stand outside searching for answers.

Pada 1 Juli 2025, kami akhirnya menemukan Rumah Biru.
Jalan Lorong 100 No. 15
Tanjung Priok, Koja
Jakarta Utara
Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya berdiri di depan rumah yang dahulu menjadi tempat tinggal ibu kandung saya. Belum pernah seumur hidup saya merasa sedekat ini dengan arti sebuah “rumah.”
Perasaan yang saya rasakan saat itu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Begitu banyak pertanyaan. Begitu banyak kenangan yang hanya bisa saya bayangkan. Di sinilah ibu saya pernah tinggal. Di sinilah kehidupan beliau berlangsung. Di sinilah kisah kami bermula. Rumah biru tempat ibu kandung saya pernah tinggal kini dijual.
Saat berdiri di sana, saya tidak bisa berhenti bertanya-tanya… berapa kali beliau pernah melewati pintu itu, seperti apa kehidupannya, dan apakah beliau pernah membayangkan bahwa hampir lima puluh tahun kemudian, putrinya akan berdiri di depan rumah itu, mencari jawaban tentang asal-usulnya.
Today was a day filled with emotions I can hardly put into words. We visited Rumah Sakit Koja, the hospital where I was born almost fifty years ago. Time has changed almost everything. The buildings are different, the surroundings have evolved, and so much has disappeared.
But one thing remained. A magnificent old tree. From this day forward, I will always think of it as The Tree of My Life.
Somewhere beneath its branches began the first chapter of my story. This was the place where I first looked into my birth mother’s eyes, and, most likely, the place where I saw her for the very last time.
Standing there, knowing that our lives crossed only briefly before we were separated forever, shook me to my core. For a moment, time seemed to stand still.


Hari ini adalah hari yang dipenuhi emosi yang sulit saya ungkapkan dengan kata-kata. Kami mengunjungi Rumah Sakit Koja, rumah sakit tempat saya dilahirkan hampir lima puluh tahun yang lalu. Waktu telah mengubah hampir segalanya. Bangunannya sudah berbeda, lingkungan sekitarnya telah berubah, dan banyak hal yang sudah tidak lagi sama.
Namun, ada satu hal yang tetap bertahan. Sebuah pohon besar yang megah. Mulai hari ini, saya akan selalu menyebutnya Pohon Kehidupanku.
Di bawah rindangnya pohon itulah bab pertama kisah hidup saya dimulai. Di tempat inilah saya untuk pertama kalinya menatap mata ibu kandung saya… dan kemungkinan besar juga untuk terakhir kalinya.
Berdiri di sana, menyadari bahwa jalan hidup kami hanya bertemu sejenak sebelum akhirnya dipisahkan, benar-benar mengguncang hati saya. Untuk sesaat, rasanya waktu seakan berhenti.
On 2 July 2025, walking through the gates of Yayasan Sayap Ibu – which beautifully translates to “Under Mother’s Wings” – gave me goosebumps from the very first moment.
Three photographs tell the story of the orphanage through the decades. Although the building has changed over the years, stepping inside felt strangely familiar.
My adoptive mother always told me: “I found you in a room filled with baby beds. It didn’t feel like an orphanage. You were wearing just one little purple sock.”
Many things might have changed, but surprisingly, the baby beds still looked the same. Apart from renovated walls, it almost felt as if time had stood still since 1977.
Then I heard a baby crying. My heart skipped a beat. Forty-eight years ago, that might have been me. As I walked toward the nursery, one little girl wouldn’t stop looking at me. I couldn’t look away either. In her eyes, I caught a glimpse of myself. The same dark hair. The same skin tone. The same curious look. It was impossible to explain what I felt in that moment. Even now, thinking back, it overwhelms me.
Because it was nap time, I decided to return a few days later, not only to spend time with the children, but to make the first donation through my Roots Action, made possible by the generosity of so many family members, friends and supporters.





Me versus this sweet little boy, same situation, same bed, just 48 years apart.
Saya dan anak laki-laki kecil yang manis ini. Keadaan yang sama, tempat tidur yang sama, hanya terpaut 48 tahun.


Pada 2 Juli 2025, melangkah melewati gerbang Yayasan Sayap Ibu – yang memiliki arti indah “Di Bawah Sayap Seorang Ibu” – membuat saya merinding sejak detik pertama.
Tiga foto ini menceritakan perjalanan panti asuhan tersebut selama puluhan tahun. Meskipun bangunannya telah banyak berubah, saat melangkah masuk, saya merasakan sesuatu yang begitu akrab.
Ibu angkat saya selalu berkata, “Aku menemukanmu di sebuah ruangan yang penuh dengan tempat tidur bayi. Tempat itu tidak terasa seperti panti asuhan. Kamu hanya memakai satu kaus kaki kecil berwarna ungu.”
Banyak hal memang telah berubah, tetapi yang mengejutkan, tempat tidur bayi itu masih terlihat sama. Selain dinding yang telah direnovasi, rasanya seolah waktu berhenti sejak tahun 1977.
Lalu saya mendengar tangisan seorang bayi. Jantung saya seakan berhenti berdetak sesaat. Empat puluh delapan tahun yang lalu, mungkin suara itu adalah suara saya. Saat saya berjalan menuju ruang bayi, ada seorang bayi perempuan kecil yang terus menatap saya. Saya pun tidak bisa mengalihkan pandangan. Di matanya, saya seperti melihat diri saya sendiri. Rambut hitam yang sama. Warna kulit yang sama. Tatapan penuh rasa ingin tahu yang sama.
Sulit sekali menggambarkan apa yang saya rasakan saat itu. Bahkan hingga hari ini, setiap kali mengingatnya, perasaan itu masih begitu kuat.
Karena saat itu adalah waktu tidur siang, saya memutuskan untuk kembali beberapa hari kemudian. Bukan hanya untuk menghabiskan waktu bermain bersama anak-anak, tetapi juga untuk memberikan donasi pertama melalui Roots Action, yang terwujud berkat kemurahan hati keluarga, sahabat, dan semua orang yang telah mendukung perjalanan saya.
On 30 July 2025, while we were at the final stop of our journey across Java, I received an unexpected message from CNN Indonesia. They were curious about my search for my biological family and invited me to share my story.
During the interview, I spoke about how my search had unfolded so far, the incredible people who had helped me along the way, and my hope of reaching as many people as possible who might hold the missing piece of my family’s story.
More than anything, I wanted to raise awareness about adoption. While adoption can be a beautiful act of love, it can also leave adopted children with lifelong questions about their identity, their origins, and where they truly belong.
If sharing my story helps even one person reconnect with their family—or helps others better understand the emotional complexity of adoption—then every step of this journey has been worthwhile.



With CNN Indonesia crew – Bersama kru CNN Indonesia: Ghea, Gancar and Andri
Pada 30 Juli 2025, saat kami berada di pemberhentian terakhir perjalanan kami di Pulau Jawa, saya menerima pesan yang tidak pernah saya duga sebelumnya dari CNN Indonesia. Mereka tertarik dengan perjalanan saya mencari keluarga kandung dan mengundang saya untuk berbagi kisah.
Dalam wawancara tersebut, saya menceritakan bagaimana pencarian saya telah berkembang sejauh ini, orang-orang luar biasa yang telah membantu saya, serta harapan saya agar kisah ini dapat menjangkau sebanyak mungkin orang yang mungkin memiliki petunjuk tentang keluarga kandung saya.
Yang paling penting, saya ingin meningkatkan kesadaran tentang adopsi. Meskipun adopsi bisa menjadi sebuah tindakan penuh kasih sayang, bagi banyak anak adopsi, adopsi juga meninggalkan pertanyaan seumur hidup tentang identitas, asal-usul, dan di mana sebenarnya mereka berasal.
Jika kisah saya dapat membantu bahkan satu orang menemukan kembali keluarganya, atau membuat lebih banyak orang memahami sisi emosional dan kompleks dari adopsi, maka setiap langkah dalam perjalanan ini akan sangat berarti.
Until We Meet Again – Sampai jumpa lagi
After forty-six years, I returned to the land where my life began. Not simply as a traveler, but as a daughter searching for the missing pieces of her story.
For an unforgettable month, I crossed the island of Java, following every lead, knocking on doors, asking difficult questions, and holding on to the hope that somewhere, someone would know my family.
This time, I did not find them.
Leaving Indonesia without the answers I had longed for is painful. There is sadness in my heart because one piece of my puzzle is still missing. But this journey gave me something I never expected. It gave me back myself.
I walked the streets where I was born. I stood in the hospital where I first opened my eyes. I visited the orphanage where my life took a different path. I stood in front of the house where my birth mother once lived. With every step, I discovered pieces of my identity that had been waiting for nearly half a century to be found.
I searched for my biological family, but along the way I found another family too. Two extraordinary men, Jefri and Fahrizal, became brothers I never knew I needed. Together, we searched, hoped, laughed, cried, and refused to give up. Their friendship, love, and unwavering support carried me through moments when the weight of the search became almost unbearable.
I met people whose kindness restored my faith in humanity. Strangers who became friends. Fellow adoptees who understood the questions that live quietly in our hearts. People who reminded me that even when we feel lost, we are never truly alone.
I am endlessly grateful that I could experience this journey with my husband, Mark, and our son, Ilias. They were my safe place, my strength, and my reason to keep believing.
To my mother, my sister, my brother-in-law, my niece, my family and friends across the world, thank you for believing in me, encouraging me, and carrying this dream with me.
And to my father, I wish you could have seen this. You always encouraged me to find my roots. I felt your presence everywhere, in the warmth of the Indonesian sun, in the silence of ancient temples, in every smile that welcomed me home. I hope you are proud.
Although I am leaving Indonesia without all the answers, I am not leaving empty-handed. I leave with friendships that will last a lifetime. With memories that no one can ever take away. With a deeper understanding of who I am. With the certainty that I belong to two worlds, not one.
Belgium shaped the life I lived. Indonesia shaped the part of me I could never fully explain. Now they blend together, no need to choose as they both define me!
The search for my biological family is not over. It continues. Today I know something I didn’t know before I came here. I am stronger than I ever imagined. I am deeply loved.
Home is where the heart is – Rumah adalah tempat hati berada.


Sampai jumpa lagi
Setelah empat puluh enam tahun, saya kembali ke tanah tempat kehidupan saya bermula. Bukan sekadar sebagai seorang pelancong, tetapi sebagai seorang anak perempuan yang mencari kepingan-kepingan kisah hidupnya yang masih hilang.
Selama satu bulan yang tak terlupakan, saya menjelajahi Pulau Jawa, mengikuti setiap petunjuk, mengetuk setiap pintu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit, dan terus berpegang pada harapan bahwa di suatu tempat, seseorang mengenal keluarga kandung saya.
Namun kali ini, saya belum menemukannya.
Meninggalkan Indonesia tanpa jawaban yang telah lama saya dambakan terasa sangat menyakitkan. Ada kesedihan di hati saya karena masih ada satu keping puzzle kehidupan saya yang belum ditemukan. Namun perjalanan ini memberi saya sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Perjalanan ini mengembalikan diri saya kepada saya sendiri.
Saya berjalan di jalan-jalan tempat saya dilahirkan. Saya berdiri di rumah sakit tempat saya pertama kali membuka mata. Saya mengunjungi panti asuhan tempat hidup saya mengambil arah yang berbeda. Saya berdiri di depan rumah tempat ibu kandung saya pernah tinggal. Di setiap langkah, saya menemukan bagian-bagian dari identitas saya yang telah menunggu hampir setengah abad untuk ditemukan.
Saya datang mencari keluarga kandung saya, tetapi di sepanjang perjalanan saya juga menemukan keluarga yang lain.
Dua pria luar biasa, Jefri dan Fahrizal, menjadi saudara yang tidak pernah saya tahu saya butuhkan. Bersama-sama kami mencari, berharap, tertawa, menangis, dan menolak untuk menyerah. Persahabatan, kasih sayang, dan dukungan mereka yang tak pernah goyah menopang saya ketika beban pencarian terasa hampir terlalu berat untuk dipikul.
Saya bertemu dengan orang-orang yang kebaikannya mengembalikan keyakinan saya pada kemanusiaan. Orang-orang asing yang kemudian menjadi sahabat. Sesama anak adopsi yang memahami pertanyaan-pertanyaan yang diam-diam hidup di dalam hati kami. Orang-orang yang mengingatkan saya bahwa bahkan ketika kita merasa tersesat, kita tidak pernah benar-benar sendirian.
Saya sangat bersyukur dapat menjalani perjalanan ini bersama suami saya, Mark, dan putra kami, Ilias. Mereka adalah tempat saya merasa aman, sumber kekuatan saya, dan alasan saya untuk terus percaya.
Untuk ibu saya, saudara perempuan saya, kakak ipar saya, keponakan saya, keluarga dan sahabat-sahabat saya di seluruh dunia, terima kasih karena telah percaya kepada saya, memberi semangat, dan membawa mimpi ini bersama saya.
Dan untuk ayah saya, andai saja Ayah bisa menyaksikan semua ini. Ayah selalu mendorong saya untuk mencari akar saya. Saya merasakan kehadiran Ayah di mana-mana, dalam hangatnya matahari Indonesia, dalam keheningan candi-candi tua, dan di setiap senyuman yang menyambut saya pulang. Saya harap Ayah bangga kepada saya.
Meskipun saya meninggalkan Indonesia tanpa semua jawaban yang saya cari, saya tidak pulang dengan tangan kosong. Saya membawa pulang persahabatan yang akan bertahan seumur hidup. Kenangan yang tidak akan pernah bisa diambil oleh siapa pun. Pemahaman yang lebih dalam tentang siapa diri saya. Dan keyakinan bahwa saya berasal dari dua dunia, bukan hanya satu.
Belgia membentuk kehidupan yang saya jalani. Indonesia membentuk bagian dari diri saya yang selama ini tidak pernah bisa saya jelaskan. Kini kedua dunia itu menyatu. Saya tidak lagi harus memilih, karena keduanya adalah bagian dari diri saya dan membentuk siapa saya sebenarnya.
Pencarian saya terhadap keluarga kandung belum berakhir. Perjalanan ini masih terus berlanjut. Namun hari ini saya mengetahui sesuatu yang belum saya sadari sebelum datang ke sini. Saya lebih kuat daripada yang pernah saya bayangkan. Saya sangat dicintai.
Rumah adalah tempat hati berada.