Sometimes life takes us in directions we never expected, and sometimes the need to find answers becomes stronger than we ever imagined.
Quite unexpectedly, we decided to return to Jakarta in August 2026.
After losing my beloved adoptive mother on September 15, 2025, just three weeks after returning from my first journey in search of my roots, everything became emotionally overwhelming and bittersweet.
For an entire year, I struggled with a whirlwind of emotions, trying to make sense of everything that had happened.
In the summer of 2025, I had travelled to Indonesia with a heart full of hope, determined to search for my biological family, especially my birth mother, and to discover the country where my own story began.
But shortly after returning home, I had to say goodbye to the woman who had raised me, loved me, and had been my mother throughout my life.
While I was searching for the mother who gave me life, I lost the mother who had given me a life filled with love.
It was a painful contrast that left me with so many emotions, unanswered questions, and feelings I could barely put into words.
As the months passed, I realised that my journey was far from over. There were still missing pieces of my past, stories waiting to be uncovered, and perhaps answers that could help me better understand not only where I came from, but also who I am today.
And so, we decided to return to Jakarta in the summer of 2026. Not just to continue searching for my biological family, but also to find a little more peace within myself.
This time, I was once again accompanied by Jefry and Fahrizal, my husband Mark, and our son Ilias. But this journey became even more meaningful with the loving support and presence of my sister Miriam and my niece Emma.
Together, we continued following the traces of my past, not knowing what we would discover or where this journey might lead us.
The next chapter of my search has been captured in a documentary by Fahrizal Ibrahim, which you can watch on his YouTube channel, Rajut Kasih TV.
Because sometimes, finding your roots is not just about discovering where you come from. It is also about finding the missing pieces of yourself, learning to live with loss, and slowly finding your way towards inner peace.
My journey is not over. There are still chapters waiting to be written.
Terkadang hidup membawa kita ke arah yang tidak pernah kita duga. Dan terkadang, keinginan untuk menemukan jawaban menjadi jauh lebih kuat daripada yang pernah kita bayangkan.
Tanpa direncanakan sebelumnya, kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta pada bulan Agustus 2026.
Setelah kehilangan ibu angkat tercinta saya pada tanggal 15 September 2025, hanya tiga minggu setelah saya kembali dari perjalanan pertama untuk mencari akar kehidupan saya, semuanya terasa begitu berat dan penuh dengan perasaan yang bercampur aduk.
Selama hampir satu tahun, saya berjuang menghadapi berbagai emosi dalam diri saya, mencoba memahami dan menerima semua yang telah terjadi.
Pada musim panas tahun 2025, saya berangkat ke Indonesia dengan hati penuh harapan dan tekad untuk mencari keluarga kandung saya, terutama ibu kandung saya, serta mengenal lebih dekat tanah kelahiran tempat kisah hidup saya dimulai.
Namun, tidak lama setelah saya kembali ke Belgia, saya harus mengucapkan selamat tinggal kepada perempuan yang telah membesarkan saya, mencintai saya, dan menjadi sosok ibu sepanjang hidup saya.
Di saat saya sedang mencari ibu yang telah melahirkan saya ke dunia, saya justru kehilangan ibu yang telah membesarkan saya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Sebuah kenyataan yang begitu menyakitkan, meninggalkan begitu banyak perasaan, pertanyaan yang belum terjawab, dan kesedihan yang bahkan sulit saya ungkapkan dengan kata-kata.
Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa perjalanan saya masih jauh dari selesai. Masih ada kepingan-kepingan masa lalu yang hilang, kisah-kisah yang belum terungkap, dan mungkin jawaban-jawaban yang dapat membantu saya memahami bukan hanya dari mana saya berasal, tetapi juga siapa diri saya sebenarnya.
Karena itulah, kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta pada musim panas tahun 2026. Bukan hanya untuk melanjutkan pencarian keluarga kandung saya, tetapi juga untuk menemukan sedikit demi sedikit kedamaian dalam diri saya sendiri.
Kali ini, saya kembali ditemani oleh Jefry dan Fahrizal, suami saya Mark, dan putra kami Ilias. Namun, perjalanan ini menjadi semakin istimewa dan penuh makna berkat kehadiran serta dukungan penuh kasih dari kakak perempuan saya, Miriam, dan keponakan saya, Emma.
Bersama-sama, kami kembali menelusuri jejak masa lalu saya, tanpa mengetahui apa yang akan kami temukan atau ke mana perjalanan ini akan membawa kami.
Babak selanjutnya dari pencarian saya telah diabadikan dalam sebuah film dokumenter karya Fahrizal Ibrahim, yang dapat Anda saksikan melalui kanal YouTube miliknya, Rajut Kasih TV.
Karena terkadang, menemukan akar kehidupan bukan hanya tentang mengetahui dari mana kita berasal. Tetapi juga tentang menemukan kembali bagian-bagian diri yang selama ini hilang, belajar hidup berdampingan dengan kehilangan, dan perlahan menemukan jalan menuju kedamaian batin.
Perjalanan saya belum berakhir. Masih ada lembaran-lembaran kehidupan yang menunggu untuk ditulis.